FLU BURUNG, DISIKAPI BUKAN DITAKUTI

FLU BURUNG, DISIKAPI BUKAN DITAKUTI
Oleh : Abdullah *)

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan menanyakan, apakah Sulawesi Tengah berpeluang penyakit flu burung, Pertanyaan tersebut saya jawab dengan mengatakan bahwa untuk Sulawesi Tengah, terdiri dari 1 kota dan 9 kabupaten, pertanyaannya bukan “Apakah” melainkan “Kapan” Flu burung berjangkit di Sulawesi Tengah.
Mengapa pertanyaan tersebut mesti dibalik ? Jawabnya, kalau berbicara atau mendiskusikan masalah flu burung, maka boleh dikatakan tidak ada daerah yang boleh mengklaim dirinya sebagai daerah bebas flu burung, mengingat dan melihat fakta empirik di lapangan, kondisi infrastruktur dan manajemen peternakan unggas (Baca: Ayam) kita amat rawan terhadap masuknya virus H5 N1 –Avian Influenza Virus—

INEFEKTIVITAS BIO SECURITI UNGGAS
Beberapa negara di dunia yang sukses mengendalikan penyebaran flu burung karena ditunjang oleh infrastruktur dan manajemen peternakan yang baik , sebut saja Korea Selatan dan Hongkong, konon di kedua negara tersebut komunitas manusia dan unggas memang sudah dipisahkan oleh regulasi dibarengi kesadaran masyarakat yang tinggi untuk tidak “hidup bersama” dengan unggas. Hal ini dibuktikan dengan masyarakat tidak mau memelihara atau beternak unggas di rumah rumah mereka.
Sebaliknya, kondisi di daerah kita akibat “perkawanan” manusia dengan unggas yang “amat dekat” yang ditandai dengan banyaknya keluarga yang beternak unggas secara “amatiran” . Hal ini terjadi karena untuk memenuhi kebutuhan protein hewani baik berupa telur maupun daging ayam.
Kondisi tersebut membawa konsekwensi terhadap sulitnya memisahkan mata rantai hubungan antara sesama unggas yang dikandangkan dengan unggas yang dipelihara secara bebas berkeliaran. Demikian pula kesulitan memutuskan mata rantai hubungan manusia dengan unggas peliharaan mereka sendiri. Kesemua fakta empirik ini tentunya membawa konsekwensi terjadinya kerawanan penularan flu burung baik antar unggas maupun antarmanusia. Dan kondisi tersebut menuntut terjadinya inefektivitas biosekuriti unggas.

DIPERLUKAN KESADARAN KOLEKTIF MASYARAKAT
Tindakan biosekuriti unggas memiliki beberapa prinsip , Pertama, pembatasan lalu lintas ternak, baik masuk maupun keluar dari suatu daerah. Kebijakan ini telah dilaksanakan oleh Pemda Sulteng sejak terjadinya kasus flu burung di Pulau Jawa (Januari, 2004) untuk tidak mendatangkan bibit unggas dan pakan ternak dari daerah yang tertular oleh flu burung.
Kegagalan pengendalian lalu lintas hewan di Sulteng dimungkinkan terjadi akibat banyaknya pintu pintu masuk yang sulit diawasi akibat kurangnya jumlah tenaga pengawas di lapangan. Keadaan ini diperburuk oleh kesadaran masyarakat yang tergolong rendah mengamankan daerah Sulawesi Tengah dari masuknya flu burung, artinya masyarakat kita kurang memiliki kesadaran kolektif untuk menangkal masuknya virus tersebut melalui lalu lintas unggas.
Kedua , membatasi lalu lintas manusia ke daerah peternakan. Hal ini sulit dilakukan karena usaha peternakan unggas tidak hanya dilakukan oleh peternak profesional, tetapi juga oleh peternak amatiran di rumah rumah penduduk. Kondisi ini juga tergolong rawan untuk daerah Sulawesi Tengah.
Ketiga, Praktek personal higiene oleh peternak unggas juga amat penting. Praktek perilaku hidup bersih dansehat (PHBS) yang benar akan memperkecil risiko penularan flu burung dari unggas ke manusia.
Keempat, praktek sanitasi peternakan yang baik. Kesadaran sanitasi ini diperlukan mengingat bahwa adalah mustahil kita dapat mewujudkan kesehatan manusia yang optimal tanpa dibarengi dengan mewujudkan kesehatan hewan terlebih dahulu.
Kelima, mencegah terjadinya kontak antara unggas liar dengan unggas yang diternak. Hal ini sulit dilaksanakan mengingat luasnya populasi unggas ternak bebas berkeliaran dan sesama unggas terjadi kontak terus menerus tanpa dapat dikendalikan karena memang sebagian besar unggas tersebut dikandangkan.
Untuk suksesnya strategi biosekuriti tersebut, memang diperlukan kesadaran kolektif masyarakat untuk :
a) Segera mengandangkan unggas peliharaan pada tempat yang relatif jauh dari area pemukiman penduduk;
b) Menunda atau menghentikan (sementara) minat untuk beternak unggas di rumah rumah ataudi daerah pemukiman manusia;
c) Melakukan upaya-upaya personal hygiene (kebersihan) tubuh bagi peternak, misalnya dengan menggunakan pakaian khusus pada waktu berada di area peternakan dan pakaian tersebut ditinggalkan di area peternakan ketika selesai bekerja; menggunakan sepatu jungle boat; memakai masker, kaos tangan pada waktu bekerja; membersihkan kandang dari kotoran unggas secara teratur paling kurang sekali dalam seminggu; serta melakukan disinfeksi kandang secara berkala.

DEPOPULASI DAN IMUNISASI UNGGAS
Biosekuriti hanyalah salah satu tindakan pengendalian flu burung. Untuk lebih sempurnanya upaya pengendalian dibanyak negara, diperlukan tindakan depopulasi (pemusnahan) unggas secara masal didaerah tertular flu burung.
Tindakan depopulasi unggas memang tindakan yang tidak populer di
mata masyarakat, karena mereka merasa amat dirugikan bila unggas peliharaan mereka harus dimusnahkan Namun hal ini tidak mungkin dapat dihindarkan karena ancaman penularan flu burung ke manusia tentulah amat prioritas penanganannya, karena menyangkut keselamatan nyawa manusia.
Selanjutnya tindakan imunisasi unggas yang belum tertular juga amat penting bila kita hendak memutuskan mata rantai penularan flu burung. Kegagalan imunisasi unggas akan memperbesar jumlah populasi unggas yang akan terserang flu burung.
Dengan demikian untuk suksesnya pengendalian flu burung di Sulawesi Tengah diperlukan kesadaran kolektif masyarakat dan komitmen pemerintah baik pemerintah daerah Propinsi/Kabupaten/Kota maupun Pemerintah Pusat. Pengendalian melalui tindakan depopulasi juga memerlukan kesadaran masyarakat untuk secara ikhlas menerima kenyataan bahwa unggas peliharaan mereka harus dimusnahkan. Pun, demikian halnya dengan tindakan imunisasi. Masyarakat secara sadar mau mengimunisasi unggas peliharaannya.

SURVAILANS AKTIF PADA MANUSIA
Upaya penyelamatan manusia dari penularan flu burung di daerah tertular, prinsipnya early diagnostic and prompt treatment . Prinsipnya penemuan kasus sedini mungkin melalui kegiatan surveilans (pengamatan) aktif dan segera memberikan terapi bilamana diagnosa penyakit flu burung pada manusia memenuhi kriteria sebagai berikut :
Pertama, “kasus suspek” adalah seseorang yang menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dengan gejala demam (suhu> 38 °), batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau beringus serta dengan salah satu keadaan :
a. Seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit KLB flu burung.
b. Kontak dengan kasus konfirmasi flu burung dalam masa penularan.
c. Bekerja pada satu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita flu burung.
Kedua , “kasus probable” adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan :
a. Bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus influenza A (H5N1), misalnya : tes HI yang menggunakan antigen H5N1.
b. Dalam waktu singkat berlanjut menjadi peneumonia/gagal pernafasan/meninggal.
c. Terbukti tidak terdapat penyebab lain.
Ketiga, “kasus konfirmasi”, adalah kasus suspek atau “probable” didukung oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium ;
a. Kultur virus influenza H5N1 positif.
b. PCR influenza (H5) positif
c. Peningkatan titer antibody H5 sebesar 4 kali.

Sebagai penutup dari tulisan ini, penulis menitip pesan , bahwa untuk mengatasi wabah flu burung yang sedang menyerang unggas di kota Palu, yang diperlukan adalah menyikapi dengan tindakan realistis. Flu burung tidak perlu ditakuti secara berlebihan , tetapi mari kita menyikapinya dengan melakukan langkah – langkah biosekuriti, depopulasi dan immunisasi unggas. Dan tentunya untuk keselamatan manusia diperlukan surveilans aktif pada manusia .
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita sekalian, wallahu ‘alam.

*) Dr. Abdullah, DHSM, M.Kes, adalah Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah.

3 Tanggapan

  1. Assalamualaikum Wr Wb,
    flu burung memang suatu issue yang paling dahsyat yang menimbulkan dampak yang menakutkan bagi sebagian besar masyarakat akhir-akhir ini, kita gak b isa tutup mata bahwa selama ini b ayak tulisan yang menjelaskan betapa dahsyatnya ancaman flu burung mengintai ribuan nyawa
    masyarakat indonesia, tanpa memberi solusi untuk mengatasi dan mengurangi keresahan tersebut, sehingga ancaman yang paling dahsyat bukan justru flu burungnya tapi stress….yang ditimbulkan issue flu burung.
    Tapi dengan penjabaran tulisan bapak tentang flu burung dengan sangat
    lugas saya berharap masyarakt dapat lebih tenang dan tegas dalam menyikapi masalah ini.
    Trimakasih Pak…..salut buat bapak…semoga Sulawesi Tengah semakin jaya dibawah pimpinan Bapak, Wassalam

    Jelita Alamsyah, SIMKES UGM 2006

    [admin] say :

    Terima kasih atas kunjungan Sdri Jelita, kami tunggu komentar-komentar anda selanjutnya.

  2. Setuju,
    Flu burung !! kenapa takut?

    [admin] say :

    Terima kasih atas kunjungan anda, kami tunggu komentar-komentar anda lainnya.

  3. Dalam menyikapi kita harus tanggap flu burung antara lain :jangan sentuh ayam, bebek dan unggas lain yang sakit atau mati; cuci tangan pakai sabun tangan ; pisahkan dari unggas, periksakan ke puskesmas jika ada gejala flu dan demam setelah setelah berdekatan dengan unggas, gunakan sarung tangan, penutup mulut dan hidung saat memegang unggas,

Tinggalkan Balasan