Need Assesment Peralatan Medis dan Non Medis Puskesmas di Sulawesi Tengah

Analisis pemanfaatan peralatan medis puskesmas di Provinsi Sulawesi Tengah diharapkan dapat menghasilkan pemikiran yang cermat dalam mewujudkan prasarana kesehatan di puskesmas dengan melihat tingkat kebutuhan, tingkat pemanfaatan, maupun teknik operasi peralatan. Need assesment puskesmas ini harus dilaksanakan dengan cermat dengan alasan bahwa pemanfaatan peralatan selama ini kurang optimal, hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor yaitu; 1) kualitas peralatan yang tidak memadai; 2) kuantitas yang tersedia tidak memenuhi kebutuhan; 3) kerumitan operasional peralatan yang tersedia di puskesmas; 4) peralatan yang tersedia tidak sesuai dengan derajat prioritas (kebutuhan) puskesmas. untuk itu, need assesment perlu di kembangkan dengan dasar bahwa pihak puskesmas sebagai pihak yang menggunakan alat dan berhadapan langsung dengan pasien, lebih memahami kebutuhan yang di butuhkan berikut jumlah yang memadai. dengan cara ini maka puskesmas akan ikut berpartisipasi dalam proses perencanaan kebutuan peralatan, sehingga di masa depan ketidaksesuaian peralatan yang disediakan Dinas Kesehatan dan berbagai lembaga funding lainnya dapat diminimalkan.

Need assesment pada dasarnya adalah sebuah pendekatan yang mencoba mengidentifikasi pemenuhan kebutuhan dan pemanfaatan peralatan dengan melibatkan pengguna sebagai sumber informasi. ini berarti bahwa puskesmas dapat menjadi subyek, obyek sekaligus sumber informasi (responden) dalam proses penilaian.

Manfaat penelitian ini bagi Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah yaitu sebagai bahan evaluasi atas pengadaan peralatan medis yang didistribusikan ke puskemas, sebagai bahan evaluasi atas pemanfaatan peralatan medis yang di miliki oleh puskesmas, sebagai dasar perencanaan pengadaan peralatan medis yang didasarkan pada kebutuhan puskesmas. Bagi Puskesmas sebagai bahan masukan bagi puskesmas untuk dapat meningkatkan pemanfaatan atas peralatan medis yang dimiliki puskesmas, sebagai bahan masukan bagi puskesmas untuk dapat meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat pengguna jasa puskesmas, sebagai bahan masukan bagi puskesmas untuk dapat mengidentifikasi peralatan medis sesuai dengan kebutuhan puskesmas.

Tujuan penelitian ini secara umum menganalisis pemanfaatan alat medis di puskesmas, secara khusus mengkaji kebijakan pengadaan alat medis di puskesmas, menganalisis dan menilai persepsi pemakai atas peralatan yang selama ini mereka terima, menentukan peralatan medis yang menjadi prioritas keutuhan puskemas guna menunjang peningkatan mutu pelayanan puskesmas.

Penelitian ini akan dilaksanakan pada 30 puskesmas Induk Non keperawatan yang di alokasi berdasarkan pendekatan geografis yaitu wilayah kota, Intermediate dan terpencil dan juga berdasarkan penelitian kinerja yang ditentukan oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota. Dalam penelitian ini yang di analisis lebih lanjut hanya 28 puskesmas, oleh karna 2 puskesmas diantaranya tidak mengembalikan kuisioner, adapun waktu pelaksanaan penelitian adalah bulan Maret s/d November 2007 (selama 9 bulan). Jenis penelitian ini adalah rancangan cross setional study, dengan rancangan tersebut dimaksudkan untuk melakukan identifikasi karakteristik umum maupun khusus responden berdasarkan waktu penelitian dalam hal ini semua isi variabel diidentifikasi secara bersama-sama saat penelitian dilakukan.

Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional yaitu pengumpulan data dilakukan pada saat atau periode tertentu dan pengamatan subyek studi hanya dilakukan satu kali dalam penelitian. Sedangkan populasi penelitian ini adalah seluruh Puskesmas Induk baik Puskesmas perawatan maupun Puskesmas Non perawatan di Sulawesi Tengah yang berjumlah 161 Puskesmas.

Penentuan besaran sampel di tetapkan berdasarkan pendekatan sampel minimal sebesar 30 puskesmas yang dialokasi secara merata disetiap Kabupaten/Kota (rata-rata 3 puskesmas). Puskemas sampel tiap Kabupaten/Kota akan dialokasi berdasarkan pendekatan geografis yaitu wilayah kota, intermediate dan terpencil dan juga berdasarkan penilaian kinerja yang di tentukan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Setiap kepala puskesmas akan menjadi responden penelitian ini ditambah 1 orang dokter/para medis dari masing-masing poli yang bersangkutan, yang memahami keberadaan dan fungsi peralatan pada masing-masing poli. Kuesioner ini bersifat tertutup dengan alternatif jawaban dan pertanyaan terbuka.

Berdasarkan tujuan penelitian maka variabel-variabel yang perlu di amati dalam penelitian ini adalah :

  1. Standarisasi peralatan
  2. Persepsi petugas
  3. Sarana pendukung peralatan
  4. Prosedur penggunaan alat
  5. Peningkatan kepuasan tenaga kesehatan Puskesmas.

Data yang di perlukan dalam penelitian ini terdiri dari dua kelompok, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil penelitian secara empirik melalui penyebaran kuisioner kepada para medis puskesmas sebagai pemberi layanan kesehatan, kebutuhan peralatan medis puskesmas dan pemanfaatan peralatan medis. Data sekunder diperoleh dari pihak puskesmas, dan instansi terkait yang berhubungan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Prosedur pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa langkah :

  1. Menyebarkan kuisioner kepada paa medis sebagai pemberi layanan puskesmas untuk mengetahui persepsi mereka terhadap kebutuhan dan pemanfaatan peralatan medis yang ada.
  2. Melakukan wawancara terutama dengan pihak Puskesmas untuk mengetahui permasalahan mengenai pemanfaatan dan kebutuhan peralatan medis.

Metode analisis data dengan menggunakan analisis kuantitatif dengan menggunakan Disribui frekuensi, Distribusi frekuensi di gunakan untuk mendeskrifsikan berbagai data yang terkait dengan identitas responden dan objek penelitian. Analsis kuntitatif dengan menggunakan Cross Tabulation, Cross Tabulation digunakan untuk menjelaskan keterkaitan berbagai data diantara data identitas baik para responden maupun objek penelitian.

Dari hasil analisis pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  • Standarisasi peralatan medis yang terdiri atas spesifikasi, penyertaan suku cadang, umur ekonomis peralatan, masih di persepsikan belum memenuhi syarat (kurang sesuai) dengan keinginan Puskesmas .
  • Persepsi petugas medis mengenai peralatan medis yang tersedia di puskesmas dipersepsikan masih kurang, sehingga masih perlu penambahan peralatan ataupun pengadaan peralatan yang belum ada.
  • Kondisi peralatan penunjang dalam memberikan pelayanan puskesmas sudah diangap memadai seperti listrik, alat komunikasi telepon, alat transportasi serta kesediaan kamar perawatan.
  • Pengelolaan peralatan medis di puskesmas yang terdiri keteraturan dan keamanan penyimpanan, pemeliharaan sampai dengan pengawaan peralatan medis di anggap cukup baik .

Litbangkes Sulteng

2 Tanggapan

  1. Saya mencoba memberikan masukan baik berupa masalah maupun saran, karena pembelian alat medis, penggunaan dan perawatannya tidak seperti alat elektronik biasa

    Masalah yang serig terjadi dilapangan dalam hal pengadaan alat medis berdasarkan pengamatan secara tidak langsung.

    1.Alat yang diadakan sering tidak mencerminkan kebutuhan di tiap-tiap puskesmas, karena biasanya pengadaan sering berupa paket.
    2.Alat yang diadakan secara paket tidak semua difungsikan oleh fihak puskesmas karena memang tidak dibutuhkan sehingga menjadi mubazir.
    3.Lemahnya pengetahuan petugas puskesmas dalam memanfaatkan alat medis secara khusus.
    4.Lemahnya pengetahuan puskesmas dalam mengadakan pemeliharaan rutin alat medis secara umum, sehingga banyak alkes tidak berfungsi dan rusak sebelum waktunya.
    5.Banyak puskesmas tidak memiliki listrik yang layak (selama ini ada anggapan jika sudah ada generator maka alat tersebut sudah dapat difungsikan), sehingga tidak semua perlatan medis yang menggunakan sumber daya listrik dapat difungsikan..

    Saran – saran

    Pengandaan peralatan medis untuk puskesmas perlu ada standar khusus, artinya harus ada standar kebutuhan minimal yang harus tersedia pada puskesmas.

    Penambahan pengandaan peralatan medis diluar kebutuhan minimal harus benar-benar merupakan kebutuhan masyarakat untuk pemenuhan pelayanan dan ada tenaga kesehatan yang dapat memamfaatkannya.

    Pengadaan peralatan medis untuk puskesmas yang berasal dari pusat ( di luar propinsi dan kabuapten/kota) harus diikuti dengan uji fungsi dan training oleh teknisi medis kepada calon user.
    Pembangunan prasarana puskesmas harus dapat mempertimbangkan kebutuhan minimal listrik dan jaringannya untuk kelayakan pemanfaatan alat medis dengan melibatkan kosultan pembangunan dibidang kesehatan..
    Pemeliharaan secara kontinyu harus dilakukan oleh Dinas Kesehatan dengan memanfaatkan tenaga yang memiliki kwalifikasi dibidangnya.

    [admin] say :

    Terima kasih atas kunjuangan Sdri Ade Apriyatna, masukan dan saran anda sangat baik semoga dapat menjadi pegangan untuk perencanaan selanjutnya kedepan, kami tunggu kunjungan dan komentar anda selanjutnya.

  2. Ada masalah dengan Peralatan Medis ??

    Selengkapnya . . . . . . . . .. . . . .

    di http://www.javakomp.wordpress.com

Tinggalkan Balasan