Penyakit Rabies merupakan penyakit menular akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus Rabies yang ditularkan oleh hewan penular seperti anjing, kucing, kera melalui gigitan dan non gigitan (aerogan, transplantasi, kontak dengan bahan mengandung virus rabies pada kulit lecet atau mukosa).
Virus Rabies termasuk golongan Rhabdovirus berbentuk peluru dengan komposisi RNA, Lipid, Karbohidrat dan Protein. Penyakit Rabies secara epidemiologi tersebar luas di seluruh dunia dengan CFR 100 % yang menyerang semua umur dan jenis kelamin. Batasan kejadian luar biasa (KLB) secara epidemiologi adalah bila ditemukan satu kasus dengan gejala klinis yang ditandai dengan hydrofobia. Diagnosa KLB Rabies dapat ditegakkan berdasarkan, sebagai berikut :
-
Terjadi kasus rabies pada manusia.
-
Terdapat cluster kasus gigitan hewan tersangka rabies pada manusia.
Berdasarkan laporan Kepala Puskesmas Beteleme beberapa tempat wilayah kerja puskesmas Beteleme ditemukan adanya beberapa masyarakat yang digigit anjing dimana sampai Bulan Juni telah dilaporkan sebanyak 19 kasus gigitan aning dengan dua penderita diantaranya meninggal dunia dengan CFR 14,3 %. Dari 19 penderita hanya satu penderita yang mendapatkan penyuntikan Vaksin Anti Rabies (VAR).
Demikian pula di wilayah kerja Puskesmas Bantula di Kelurahan Bahontula dan Kolonodale telah dilaporkan adanya gigitan anjing sebanyak 4 kasus dan semuanya telah dilakukan penyuntikan VAR sebagai upaya antisipasi dini.
Tujuan penyelidikan epidemiologi ini adalah untuk mengetahui :
-
Keadaan kemungkinan permasalahan yang timbul sebagai akibat terjadinya peningkatan kasus Rabies, mengenai jumlah penduduk yang terkena, jumlah kematian kasus, penyebab dan sumber penularan.
-
Mencari alternatif pemecahan untuk mengatasi masalah dan menentukan tindakan intervensi untuk pencegahan selanjutnya.
Daerah sasaran penyelidikan epidemiologi adalah daerah dimana terjadi peningkatan kasus atau terdapatnya kasus. Data dikumpulkan adalah data penderita Rabies berdasarkan distribusi umur, jenis kelamin, kematian. Data kasus yang berkunjung ke pelayanan kesehatan dan kunjungan ke lapangan pada saat penyelidikan epidemiologi. Data yang dikumpulkan diolah dalam bentuk tabel dan grafik.
Jumlah penderita berdasarkan data hasil investigasi Puskesmas Beteleme dari tanggal 2 Januari sampai dengan 30 Mei 2008 berjumlah 14 penderita dengan 2 orang meninggal dunia dengan CFR 14,3 %. Kasus di wilayah kerja Puskesmas Kolonodale dari tanggal 16 Juni sampai dengan 23 Juni berjumlah 4 kasus tanpa kematian (CFR 0 %), lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini,
Berdasarkan pengamatan di lokasi KLB, distribusi penderita menyebar ke desa tetangga bila dilihat dari kasus awal dari Desa Beteleme kemudian menyebar ke desa lainnya hingga mencapai 9 desa lainnya. Bila dibandingkan dengan wilayah kerja Puskesmas Beteleme dari 4 kasus gigitan yang terjadi di Kelurahan Bahontula dan Kolonodale adalah dua kelurahan yang bertetangga / berbatasan langsung, mengalami penyebaran.
Kejadian Luar Biasa rabies berdasarkan hasil investigasi dimulai minggu pertama Januari sampai dengan minggu ke-25 Juni tahun 2008 dengan jumlah kasus sebanyak 23 penderita (CFR 14,3 %). Kasus tersebar di dua wilayah kerja Puskesmas, yaitu Beteleme dan Kolonodale.
Dari hasil investigasi di lapangan dari 23 penderita yang tergigit anjing dengan lokasi gigitan adalah kaki dan tangan dengan anjing yang berbeda antara desa satu dengan yang lainnya.
Faktor yang menunjang penyebaran kasus Rabies adalah kebiasaan masyarakat memelihara anjing dengan menjadikan anjing tersebut bagian dari kehidupan keluarga dan kurangnya kesadaran untuk memberi vaksinasi ke anjing peliharaan. Data dari Dinas Pertanian dan Peternakan diperoleh bahwa tidak seluruhnya populasi anjing di kedua kecamatan tersebut mendapatkan vaksinasi anti rabies.
Ketersediaan bahan logistik vaksin anti rabies di Kabupaten Morowali belum memadai sehingga menyulitkan penanggulangan kasus serta mahalnya biaya VAR menyulitkan penderita untuk mendapatkannya.
Dari kasus tersebut berikut pemecahan masalah yang dapat dilakukan dengan cara :
-
Melakukan vaksinasi seluruh anjing yang ada diwilayah tersebut dalam hal ini perlu kerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan.
-
Penyediaan logistik Vaksin Anti Rabies di Kabupaten.
-
Koordinasi penanggulangan Lintas Program baik di Kabupaten maupun Provinsi.
-
Penyuluhan.
-
Pengobatan dan Perawatan.
-
Pengamatan Pasca KLB.
Demikian, kiranya masalah-masalah tersebut dapat terselesaikan dan ditindaklanjuti dalam meningkatkan kewaspadaan dini dan program penanggulangan penyakit rabies dan masalah kesehatan di masa yang akan datang.
DIarsipkan di bawah: Penelitian Kesehatan









Dapatkan file-file skripsi gratis dalam bentuk doc dan pdf di Blog-ku..
GIMANA CARANYA BLZZZZ YA